Sudahkah Kita Tilawah Hari Ini?

Sudahkah Kita Tilawah Hari Ini?


Target sih satu juz per hari, tapi yang namanya realita selalu aja ada halangan buat ngabisin satu juz per hari. Malah kadang-kadang lewat satu juz. Niat sudah setegar karang, bahkan disaksikan terbitnya sang surya di pagi gemilang. Saat azzam di patri, burung-burung dan serangga pagi seraya bertasbih kepada Sang Pencipta alam.
Namun keinginan yang membuncah itu tetap tak terpedaya, digeser hal yang kurang prioritas untuk dilalui sampai sang surya kembali ke peraduannya. Bahkan detik-detik terakhir menjelang sepertiga malam itu datang, tetap saja tak terlaksana.
Keesokannya, setelah sepekan firman Allah itu hanya di diamkan terbaring di atas meja, selalu saja ada kata yang terbata-bata untuk diucapkan, pikiran pun melayang jauh tak menatap pada penghayatan tartil. Keseharian pun menjadi kosong tak bermakna. Luntur oleh kilauan dunia yang tak beraturan.
Barangkali ini hanya alasan keseharian kita yang begitu padat merayap sampai tak sempat membaca Al-Qur’an walau hanya satu ayat saja. Pantas saja banyak perilaku manusia yang bertolak kepada Al-Qur’an. Mereka hanya membaca kala pengajian rutinan saja, atau lebih dari itu, ketika pembukaan suatu acara atau upacara kematian.
Semua terjadi dalam formalitas yang telah mendarah daging pada budaya rutinitas. Pembacaan pun terasa hampa untuk dihayati secara mendalam dalam qalbu. Dari membaca cepat yang mengejar target, sampai membaca dengan irama yang mendayu-dayu yang biasa diperlombakan. Menjadi catatan khusus bagi kita akan makna yang mestinya tersangkut dalam hati kita tentang berita baik dan buruk, juga sejarah dan aturan yang Allah berikan lewat kesucian firmannya.
Sampai pada pertanyaan awal kita. Sudahkah Kita tilawah hari ini? Membacakan dengan tartil firman yang Allah turunkan, menghayati tiap maknanya hingga merasuk ke dalam jiwa-jiwa yang tenang dalam aktivitas keseharian. Bukan hanya sekedar tilawah yang tak bermakna. Rasakanlah getaran tiap hurufnya, indah makna yang tersembunyi sampai beberapa kesempurnaan dari firman Allah yang paling tinggi ini.
Jika kita mengaku sebagai ummat terbaik Muhammad SAW, maka tak ada alasan untuk meninggalkan amalan yang satu ini, jadikan ia sebagai keluarga terdekat. Yang jika tak bertemu sehari saja akan menjadikan hampa dihati, yang bila mendengar suaranya menjadi tentram di hati. Lagipula, mana mau Nabi Muhammad mengakui kita di akhirat kelak jika saja beliau tau kita yang mengaku ummatnya tak mengamalkan sunnah dengan memelihara Al-Qur’an.
Satu ayat, satu lembar, satu juz, satu surrah… mengapa kita tak bisa melakukannya? Bagaimana mungkin keberkahan akan datang, rizki dengan mudah menghampiri kepada muslimun jika membaca, menelaah, mengamalkan firman Allah saja sudah tak mau. Sedangkan kita sebagai manusia hanya bisa mengeluh menjalani hidup yang semakin tak beraturan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s