Setelah SMA Mau Lanjut Kemana?

“Setelah SMA mau lanjut kemana?”

Pertanyaan ini menjadi tidak asing lagi di telinga saya. Hampir di semua sudut smansa, terkhusus siswa yang menginjak bangku kelas XII. Entah pertanyaan itu ditujukan kepada saya atau orang lain. Hati ini menjadi dilematis ketika harus menjawab pertanyaan tersebut. Pertanyaan ini sangatlah sederhana, tapi menjawabnya perlu kecermatan khusus, Karena akan menentukan masa depan seseorang. Mau jadi apa saya esok? apakah Diri ini sudah siap menerima semuanya? apakah Diri ini sudahkah tangguh menghadapi kehidupan perkampusan? Menjadi mandiri secara fisik dan mental? sudahkah siap menerima tanggung jawab profesi sebagai MAHAsiswa? Sebuah status yang diagungkan.

Lulus dari SMA boleh jadi merupakan langkah awal perjuangan nyata dalam menghadapi kehidupan. Yang selama ini kita masih bergantung pada orang tua, mungkin setelah lulus SMA sudah sepantasnya kita mengurangi beban orang tua yang semakin menua. Hidup secara mandiri. Bagi yang memutuskan untuk studi ke perguruan tinggi idaman tentunya harus bersiap-siap untuk berjuang agar dapat diterima. Dan bagi yang memutuskan untuk masuk dalam dunia kerja, pastinya juga harus bersiap-siap agar dapat survive di dunia kerja.

Berikut adalah artikel yang saya temui sewaktu blogwalking. Menarik! silakan disimak.

Saling mencoret seragam sekolah sering kita jumpai. Malah ada yang bertingkah berlebihan, seperti kebut-kebutan dengan sepeda motor dan menyalip bus di depannya tanpa rasa takut.
Semua itu cermin kegembiraan. Ekspresi kegembiraan para lulusan SMA di kota-kota kecil tidak terlalu berlebihan dibandingkan dengan di kota besar, kayak Jakarta. Walaupun demikian maknanya sama aja.

Yang menjadi pertanyaan, apakah luapan kegembiraan itu merupakan akhir dari suatu perjuangan ?? Jawabnya  tentu  aja   TIDAK  !!!,  perjalan kita masih panjang..!!

KEMANA SETELAH SMA ?

UN baru aja lewat, nggak terasa, sudah sekian lama kalian makan bangku sekolahan, akhirnya tiba juga waktu yang dinanti, yah, ninggalin seragam putih abu-abu untuk kemudian menjadi mahasiswa (kalo ngelanjutin ke Perguruan Tinggi).
‘Persimpangan jalan terbuka luas setelah lulus SMA, kalian bebas memiiih mau kemana kalian selanjutnya.

A. LANGSUNG KERJA

“  Kak, saya sudah 12 tahun sekolah dibiayai orang tua, setelah lulus saya berencana langsung kerja”, Silakan aja, nggak ada yang larang kok, tapi biasanya perlakuan dunia kerja terhadap lulusan SMA beda jauh dibandingkan lulusan Perguruan Tinggi. Lagi pula kebijakan Depdiknas terhadap siswa SMA adalah menghasilkan peserta didik yang siap untuk meianjutkan ke pendidikan tinggi, bukan siap memasuki dunia kerja, karna itu saran kami jika kalian mau langsung kerja, coba tambah keterampilan kalian dengan kursus-kursus, atau masuk aja ke BLK. Apa si BLK itu..??? BLK itu adalah Balai Latihan  Kerja yg artinya lembaga pelatihan yg bernaung dibawah Departemen Tenaga Kerja, di tempat ini kalian akan dilatih dan dididik supaya punya keterampilan dan keahlian yang sesuai dengan kompetensi jabatan kerja yang dibutuhkan di bursa tenaga kerja Karena lembaga ini memang sengaja dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Dan Kalau emang sudah mantep, silakan aja kamu dateng ke…. BLK Pasar Rebo, Jl. Raya Bogor, Km 23 Telepon 8400761.

B. MENIKAH

Ini sih pilihan orang yang udah kebelet, tapi yah nggak masalah, kalian udah dewasa, kebebasan mengambil keputusan ada di tangan kalian (tapi tentunya, kebebasan yang bertanggung jawab Iho !!) Katanya sih, menikah malah bisa menambah semangat juang, bukannya kami ngajarin Iho, kayaknya, urusan beginian, didiskusiin pada forum yang lain aja yah.

C. JADI PENGACARA

bosen dari SD sampe SMA makan bangku sekolahan mulu, pokoknya, kalau udah lulus, gue mau jadi pengacara aja memang terkadang ada rasa bosen dan jenuh dalam belajar, karena itu yang namanya refresing menjadi suatu keharusan, tapi kalau refresinnya dengan menjadi pengacara (pengangguran banyak acara) jangan sampe dech..!!!

D. KULIAH 

Nah ini sepertinya jalan yang harus kalian tempuh. Di zaman modern sekarang, sekolah “setinggi langit” adalah biasa. Ingin menjadi sarjana, juga hal yang wajar, bahkan menjadi keharusan. Bukan bermaksud kurang menghargai arti sebuah prestasi, tapi terus terang aja, di masyarakat kita gelar sarjana (kuliah) punya bobot gengsi.

Dengan kata lain kalo nggak kuliah, kalo nggak jadi sarjana, gengsi diri bisa melorot di mata teman, saudara dan orang banyak. Apa betul begitu ? Memang anggapan demikian tidak selalu benar. Tapi yang jelas bila kita punya gelar sarjana, kita berpeluang lebih besar dalam hal memperoleh kedudukan dibandingkan dengan yang hanya lulusan SMA. Inilah salah satu alasan kita untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Apalagi nanti, ketika era pasar bebas udah mulai diberlakukan, yang namanya SDM unggul mah, hukumnya kudu dimiliki.
Jangan merasa pesimis bila kita tidak melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi.
Keberhasilan seseorang tidak semata-mata ditentukan dari lulusan PT. Yang jadi masalah adalah, bisa nggak sih kita kuliah di Perguruan Tinggi (yang bermutu) ??. kalau ditanya bisa atau nggak, jawab aja dengan pede, BISA, kenapa NGGAK, tapi tentunya, nggak semudah membalik telapak tangan. Tak segampang mencoret-coret baju ketika lulus UJIAN !!!.
Persoalannya menjadi pelik, terutama ketika harus menentukan, kita mau masuk ke Jurusan apasih di PT??

Nah   disini   yang   perlu   dipertimbangkan  adalah   faktor   Bakat, Minat,  dan kemampuan.
Sikap optimis & berpikir kreatif dalam melihat peluang serta kerja keras akan lebih menentukan seseorang sukses atau tidak dimasa mendatang.

Namun, bisakah kita menjadi salah satu mahasiswa(i) Perguruan Tinggi yang baik jika kita tidak tahu dunia PT secara kongkrit ??. Dari pengalaman, nampaknya kita memerlukan kesiapan secara dini, termasuk kesiapan informasi akan PT yang dituju. Dengan berbekal informasi itu, maka kalian akan lebih mampu melihat secara utuh keadaan riil yang dihadapi.
Keputusan terbaik tentunya akan dapat kalian ambil bila telah memiliki informasi yang memadai. dan mudah-mudahan tulisan ini memberikan segelintir informasi singkat yang dapat dijadikan referensi untuk mengambil keputusan.

1. Bentuk Perguruan Tinggi
Terdapat lima bentuk Perguruan Tinggi, yang dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu :
■    Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional saja, yaitu Politeknik dan Akademi.
■    Perguran Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional dan pendidikan akademik, yaitu Sekolah Tinggi, Institut, dan Universitas.
1.    Akademi
Lembaga PT yang menyelenggarakan pendidikan terapan (profesional) dalam satu cabang ilmu. Contoh :
■    Akademi Kimia Anatis (AKA)
■    Akademi Kepolisian (AKPOL)

2.    Politeknik

Lembaga PT yang menyelenggarakan satuan pendidikan terapan dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus, dengan titik berat kurikulum pada praktek kerja ( 60% praktek, 40% teori) Contoh :

■    Politeknik Negeri Jakarta (Poltek UI)

3.    Sekolah Tinggi
Lembaga PT yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesional dalam disiplin ilmu tertentu. Contoh :
■    Sekolah Tinggi Akuntasi Negara (STAN)

4.    Institut
Lembaga PT yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesional dalam sekelompok ilmu yang sejenis. Contoh :
■    Institut Teknologi Bandung (ITB)

5.    Universitas
Lembaga PT yang menyelenggarakan pendidikan secara luas, baik pendidikan akademik dan/atau profesional, dalam berbagai disiplin ilmu. Contoh ;
■    Universitas Indonesia (UI)….pastinya..!l!

2. Jenis Program Perquruan Tinqqi
Terdiri dari dua macam, yaitu program diploma (D) dan program strata (S).
■    Program Diploma
Menyelenggarakan pendidikan profesional, non gelar, disebut juga program strata nol (5-0)
* Program D-l s/d D-4
■    Program Strata
Menyelenggarakan pendidikan akademik, terkait dengan gelar.
1.    Program Sarjana atau S-l
2.    Program Magister atau S-2
3.    Program Doktor atau S-3
3. Perquruan Tinqqi Kedinasan
Merupakan Lembaga Pendidikan Tinggi yang berusaha meningkatkan kemampuan dalam menjalankan tugas kedinasan untuk pegawai atau calon pegawai suatu departemen pemerintah atau lembaga pemerintah non departemen.
PTK dibagi dalam dua jenis :
1.    PTK “murni”Lulusannya langsung diserap oleh instansi yang bersangkutan
(ikatan dinas). Contoh :
■    STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri)
■    AKMIL (Akademi Militer)
2.    PTK “semi kedinasan” lulusannya tidak langsung diserap instansi yang
bersangkutan (biaya ditanggung bersama).
■    STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara)

3. PTN versus PTS

Perbedaan utama antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) adalah dalam hal kepemilikan dan pengelolanya. Karena dimiliki dan dikelola oleh pemerintah, biaya pendidikan di PTN biasanya relatif lebih rendah dibandingkan PTS. Selain itu fasilitas belajar di PTN relatif lebih baik.Banyak juga PTS yang memiliki fasilitas sangat baik, akan tetapi biasanya harus diimbangi dengan biaya yang cukup mahal.
Dalam rangka ikut mencerdaskan bangsa dan mengingat terbatasnya jumlah PTN, Swasta juga diijinkan untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi. Hingga saat  ini  terdapat lebih dari  1500  PTS di  seluruh Indonesia yang dikoordinasikan oleh lembaga Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (KOPERTIS). Mengingat jumlah PTS yang banyak tersebut, maka pemerintah harus melakukan penilaian terhadap kualitas pengajaran dari suatu jurusan pada suatu PTS. Dari sinilah muncul istilah Terdaftar, Diakui, dan Disamakan. Berdasarkan perkembangan terakhir, mutu PTS ditetapkan dua predikat yaitu terakreditasi dan tidak terakreditasi. Tentu PTS yang terakreditasi adalah PTS yang mutunya bagus.

4. Perguruan Tinggi di Luar Negeri
Saat ini di Indonesia dapat dilakukan dengan dua cara :
1.    Mengikuti program beasiswa
Informasi dapat ditanyakan pada Kedutaan dan/atau konsulat yang ada
2.    Mengurus keberangkatan sendiri
■    memilih negeri tujuan
berhubungan dengan bahasa pengantar, biasanya harus mengikuti TOEFL (Test of English as a Foreign Language)
■    mencari informasi tentang PT dinegeri tujuan
■    mempersiapkan persyaratan yang diperlukan
■    mempersiapkan biaya

E. SELAYANG PANDANG SPMB

Pengantar
Berdasarkan data yang ada, bahwa setiap propinsi sudah memiliki paling sedikit satu PTN. Namun jumlah tersebut masih terlalu sedikit untuk bisa menampung seluruh calon mahasiswa. Peningkatan daya tampung, baik berupa penambahan ruang kelas maupun pembukaan Fakultas dan Universitas baru, selalu kalah berpacu dengan makin meningkatnya jumlah lulusan SLTA yang berminat masuk PTN. Itulah sebabnya, penggunaan ujian masuk atau alat seleksi lamanya untuk memilih calon mahasiswa baru yang mempunyai kemampuan akademikterbaik dan diharapkan dapat menyelesaikan pendidikannya sesuai denqan waktu yang ditetapkan, menjadi sangat penting. Mungkin kalian akan lebih bijak jika mendefinisikan sukses SPMB sebagai :

1.    Lulus SPMB

2.    Di universitas pilihan, apapun jurusannya cuek aja.

Tapi ini pun kurang tepat, karena :

–    trend akhir-akhir ini, disertai dengan globalisasi dan pemerataan disegala bidang, jurusan bisa berperan lebih penting dalam pencarian pekerjaan dibading universitas.

–    Bagaimana jika kalian terpaksa mempelajari sesuatu yang pada kenyataannya sama sekali tidak kalian senangi.

Mungkin kalian akan lebih arif lagi mendefinisikan sukses SPMB sebagai :

1.    Lulus SPMB

2.    di jurusan yang prospektif

3.    di universitas yang cukup baik

Apakah itu cukup ? bagaimana jika kalian tidak meminatinya ? kemudian apa sebenarnya arti prospektif ?
Lebih lanjut, sekarang mungkin kalian telah menyadari kenyataan, sehingga mendefinisikan sukses SPMB sebagai :
1.    lulus SPMB
2.    di universitas yang cukup baik
3.    di jurusan yang prospektif, dan sesuai dengan bidang yang kalian minati.

Dan prospektif tidak dalam arti sempit, namun dalam arti luas. Prospektif sesuai dengan situasi dan kondisi. Walau definisi ini tampaknya sudah final, masih mungkin kami bertanya kepada kalian :
“bagaimana kalian bisa menjamin kelulusan kalian dengan nilai yang cukup bagus dari jurusan dan universitas itu ?”
Karena kelulusan kalian dengan nilai yang cukup bagus tentunya amat menentukan masa depan kalian selanjutnya.
Jadi mungkin kalian akan menjadi lebih arif dan bijak lagi, bila kalian sedikit bijaksana dan tidak memaksakan diri memasuki jurusan yang diluar kemampuan,, dan alangkah lebih bijak jika sukses SPMB dimengerti sebagai :
1.    lulus SPMB
2.    di universitas yang cukup baik
3.    di jurusan yang prospektif dalam arti luas dengan bidang yang sesuai minat dan kemampuan.

Apakah mungkin mencapai hal-hal tersebut secara sekaligus ? kenapa tidak ?, jika mungkin, apakah sulit ? kata siapa sulit ?. Segala sesuatu pasti ada caranya. Ya…., bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.
Pada dasarnya kita sendiri yang menentukan cara menghadapi & memandang kehidupan sukses atau tidaknya tergantung pada Tuhan dan diri kita sendiri

F. MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK SUKSES DI SPMB
Ada lima faktor yang harus dikuasai siswa untuk bekal lolos di SPMB, yaitu :
1.    Faktor Teknis
Adalah hal yang berhubungan dengan pengisian data pada formulir SPMB. Walaupun data yang diisikan cukup akurat dan dapat dipercaya, bukan berarti bebas dari kesalahan, kesalahan biasanya terjadi karena kealpaan atau kekurang telitian dalam mengisi formulir. Berdasarkan data yang ada, hal tersebut terjadi sebanyak antara 14%-15% dari jumlah peserta. ( berarti pada tahun 1999 sebanyak ± 70.000 orang ).
Kesalahan Teknis Pengisian LJK yang Sering Dilakukan Peserta
a.    salah mengisi kode naskah ujian
–    melihat kode naskah di meja sebelah
–    lupa menghitamkan blok kode naskah
–    menghitamkan tidak sesuai dengan kolom
b.    menghitamkan lebih dari satu bulatan / jawaban /   huruf   pada satu kolom/baris.
c.    Mengisi lembar jawaban kurang hitam
d.    Lembar jawaban terlipat, kotor, sobek, atau basah
e.    Jangan tanda  tangan melewati batas / kotak yang disediakan.
f.    Lembar jawaban dimanipulasi (dilapisi liiin)
g.    Lupa menghitamkan huruf atau angka pada blok yang diisi.

2.    Faktor Psikoloqis
Faktor kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri. Biasanya adalah dengan sering latihan atau belajar bersama, bisa juga dengan sering mengikuti uji coba (try out).

3.    Faktor Strateqi Penguasaan Materi
Tidak semua materi yang diajarkan di SLTA dikeluarkan di SPMB. Tidak semua pokok bahasan keluar dengan jumlah yang sama di SPMB. Untuk keperluan penguasaan materi siswa perlu kisi-kisi SPMB yang berisi tentang pokok-pokok bahasan yang keluar di SPMB dan persentasi jumlah soal.

4,    Foktor Strategi Pengertiaan Soal
Dalam setiap kesempatan mengikuti Try Out dibiasakan mengerjakan soal dimulai dari yang mudah, sedang dan sulit.

5.    Faktor Strategi Memilih Jurusan
Banyak cara dalam menentukan pilihan jurusan, salah satunya adalah :
–    Pertimbangkan bakat dan minat kalian.
–    Kenali kemampuan yang ada pada din kalian.
–    Perluas wawasan kalian tentang jurusan-jurusan yang ada.
–    Pertimbangkan faktor biaya.

G. POSITIVE THINKING

Esensi positive thinking adalah memandang segala sesuatu dari sisi pandang kebaikannya. Orang yang berfikir positif akan memandang keterbatasan kemampuannya pada suatu saat bukan sebagai suatu “kebodohan yang menimbulkan berbagai kesialan”, tapi ia memandangnya sebagaii suatu tantangan yang amat nikmat untuk diatasi.
Orang yang berfikir positif akan memandanng keterbatasan ekonominya sebagai suatu sarana untuk hidup sederhana, dan dengan kesederhanaan nya itu ia akan mencapai kebahagiaan.
Orang yang berfikir positif akan memandang semua hal dari segi kebaikannya, sehingga dunia yang terwujud dihadapannya akan dipenuhi dengan kebaikan. Bagi kita yang meyakini ke-Esa-an Allah, ke-Maha sempurnaan-Nya yang menjadi sebab efektif Satu-satunya bagi semua peristiwa di alam ini merupakan dalil terjelas yang membuktikan keharusan berfikir positif dalam segala hal. Amat efektif bagi kita untuk menekankan credo ini kepada diri kita sendiri, sehingga keyakinan ini akan merekonstruksi kebiasaan berfikir positif bagi diri kita.
” Sesungguhnya Allah bersama persangkaan hamba-Nya ” (AlHadist)
Orang yang berpikir positif akan memandang sulitnya masuk PTN sebagai suatu kenikmatan perjuangan dan harapan, serta memiliki paradigma “jika aku pikir bisa, Insya Alloh aku pasti bisa” Jika saat ini ia gagal untuk mengerjakan suatu soal, ia akan berusaha terus menerus tanpa kenal lelah, sehingga ia benar-benar bisa mengerjakan soal tersebut.
Kita hanyalah satu butir pasir di padang Sahara ummat manusia yang sedang bergerak bersama dengan zaman, tugas kita adalah berikhtiar semampu kita, dengan’orientasi yang tepat, dengan niat yang ikhlas, dan sungguh ” laa haula walaa quwwafa ilia billah”, tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas izin Allah semata.
Dengan berfikir positif, bahwa semua yang berikhtiar pasti akan mendapatkan idsil ikhtiamya, Kami ucapkan “SElAMAT BERJUANG”, semoga bermanfaat dan senantiasa memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita semua.

Nah ini sepertinya jalan yang harus kalian tempuh. Di zaman modern sekarang, sekolah “setinggi langit” adalah biasa. Ingin menjadi sarjana, juga hal yang wajar, bahkan menjadi keharusan. Bukan bermaksud kurang menghargai arti sebuah prestasi, tapi terus terang aja, di masyarakat kita gelar sarjana (kuliah) punya bobot gengsi.
Dengan kata lain kalo nggak kuliah, kalo nggak jadi sarjana, gengsi diri bisa melorot di mata teman, saudara dan orang banyak. Apa betul begitu ? Memang anggapan demikian tidak selalu benar. Tapi yang jelas bila kita punya gelar sarjana, kita berpeluang lebih besar dalam hal memperoleh kedudukan dibandingkan dengan yang hanya lulusan SMA. Inilah salah satu alasan kita untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Apalagi nanti, ketika era pasar bebas udah mulai diberlakukan, yang namanya SDM unggul mah, hukumnya kudu dimiliki.
Jangan merasa pesimis bila kita tidak melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi.
Keberhasilan seseorang tidak semata-mata ditentukan dari lulusan PT. Yang jadi masalah adalah, bisa nggak sih kita kuliah di Perguruan Tinggi (yang bermutu) ??. kalau ditanya bisa atau nggak, jawab aja dengan pede, BISA, kenapa NGGAK, tapi tentunya, nggak semudah membalik telapak tangan. Tak segampang mencoret-coret baju ketika lulus UJIAN !!!.
Persoalannya menjadi pelik, terutama ketika harus menentukan, kita mau masuk ke Jurusan apasih di PT??
Nah   disini   yang   perlu   dipertimbangkan  adalah   faktor   Bakat, Minat,  dan kemampuan.
Sikap optimis & berpikir kreatif dalam melihat peluang serta kerja keras akan lebih menentukan seseorang sukses atau tidak dimasa mendatang.

Namun, bisakah kita menjadi salah satu mahasiswa(i) Perguruan Tinggi yang baik jika kita tidak tahu dunia PT secara kongkrit ??. Dari pengalaman, nampaknya kita memerlukan kesiapan secara dini, termasuk kesiapan informasi akan PT yang dituju. Dengan berbekal informasi itu, maka kalian akan lebih mampu melihat secara utuh keadaan riil yang dihadapi.
Keputusan terbaik tentunya akan dapat kalian ambil bila telah memiliki informasi yang memadai. dan mudah-mudahan tulisan ini memberikan segelintir informasi singkat yang dapat dijadikan referensi untuk mengambil keputusan.

1. Bentuk Perguruan Tinggi
Terdapat lima bentuk Perguruan Tinggi, yang dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu :
■    Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional saja,
yaitu Politeknik dan Akademi.
■    Perguran Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional dan pendidikan akademik, yaitu Sekolah Tinggi, Institut, dan Universitas.
1.    Akademi
Lembaga PT yang menyelenggarakan pendidikan terapan (profesional) dalam satu cabang ilmu. Contoh :
■    Akademi Kimia Anatis (AKA)
■    Akademi Kepolisian (AKPOL)

2.    Politeknik
Lembaga PT yang menyelenggarakan satuan pendidikan terapan dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus, dengan titik berat kurikulum pada praktek kerja ( 60% praktek, 40% teori) Contoh :
■    Politeknik Negeri Jakarta (Poltek UI)

3.    Sekolah Tinggi
Lembaga PT yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesional dalam disiplin ilmu tertentu. Contoh :
■    Sekolah Tinggi Akuntasi Negara (STAN)

4.    Institut
Lembaga PT yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesional dalam sekelompok ilmu yang sejenis. Contoh :
■    Institut Teknologi Bandung (ITB)

5.    Universitas
Lembaga PT yang menyelenggarakan pendidikan secara luas, baik pendidikan akademik dan/atau profesional, dalam berbagai disiplin ilmu. Contoh ;
■    Universitas Indonesia (UI)….pastinya..!l!

2. Jenis Program Perquruan Tinqqi
Terdiri dari dua macam, yaitu program diploma (D) dan program strata (S).
■    Program Diploma
Menyelenggarakan pendidikan profesional, non gelar, disebut juga program strata nol (5-0)
* Program D-l s/d D-4
■    Program Strata
Menyelenggarakan pendidikan akademik, terkait dengan gelar.
1.    Program Sarjana atau S-l
2.    Program Magister atau S-2
3.    Program Doktor atau S-3
3. Perquruan Tinqqi Kedinasan
Merupakan Lembaga Pendidikan Tinggi yang berusaha meningkatkan kemampuan dalam menjalankan tugas kedinasan untuk pegawai atau calon pegawai suatu departemen pemerintah atau lembaga pemerintah non departemen.
PTK dibagi dalam dua jenis :
1.    PTK “murni”Lulusannya langsung diserap oleh instansi yang bersangkutan
(ikatan dinas). Contoh :
■    STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri)
■    AKMIL (Akademi Militer)
2.    PTK “semi kedinasan” lulusannya tidak langsung diserap instansi yang
bersangkutan (biaya ditanggung bersama).
■    STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara)

3. PTN versus PTS
Perbedaan utama antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) adalah dalam hal kepemilikan dan pengelolanya. Karena dimiliki dan dikelola oleh pemerintah, biaya pendidikan di PTN biasanya relatif lebih rendah dibandingkan PTS. Selain itu fasilitas belajar di PTN relatif lebih baik.Banyak juga PTS yang memiliki fasilitas sangat baik, akan tetapi biasanya harus diimbangi dengan biaya yang cukup mahal.
Dalam rangka ikut mencerdaskan bangsa dan mengingat terbatasnya jumlah PTN, Swasta juga diijinkan untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi. Hingga saat  ini  terdapat lebih dari  1500  PTS di  seluruh Indonesia yang dikoordinasikan oleh lembaga Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (KOPERTIS). Mengingat jumlah PTS yang banyak tersebut, maka pemerintah harus melakukan penilaian terhadap kualitas pengajaran dari suatu jurusan pada suatu PTS. Dari sinilah muncul istilah Terdaftar, Diakui, dan Disamakan. Berdasarkan perkembangan terakhir, mutu PTS ditetapkan dua predikat yaitu terakreditasi dan tidak terakreditasi. Tentu PTS yang terakreditasi adalah PTS yang mutunya bagus.

4. Perguruan Tinggi di Luar Negeri
Saat ini di Indonesia dapat dilakukan dengan dua cara :
1.    Mengikuti program beasiswa
Informasi dapat ditanyakan pada Kedutaan dan/atau konsulat yang ada
2.    Mengurus keberangkatan sendiri
■    memilih negeri tujuan
berhubungan dengan bahasa pengantar, biasanya harus mengikuti TOEFL (Test of English as a Foreign Language)
■    mencari informasi tentang PT dinegeri tujuan
■    mempersiapkan persyaratan yang diperlukan
■    mempersiapkan biaya

E. SELAYANG PANDANG SPMB
Pengantar
Berdasarkan data yang ada, bahwa setiap propinsi sudah memiliki paling sedikit satu PTN. Namun jumlah tersebut masih terlalu sedikit untuk bisa menampung seluruh calon mahasiswa. Peningkatan daya tampung, baik berupa penambahan ruang kelas maupun pembukaan Fakultas dan Universitas baru, selalu kalah berpacu dengan makin meningkatnya jumlah lulusan SLTA yang berminat masuk PTN.
Itulah sebabnya, penggunaan ujian masuk atau alat seleksi lamanya untuk memilih calon mahasiswa baru yang mempunyai kemampuan akademikterbaik dan diharapkan dapat menyelesaikan pendidikannya sesuai denqan waktu yang ditetapkan, menjadi sangat penting.
Mungkin kalian akan lebih bijak jika mendefinisikan sukses SPMB sebagai :
1.    Lulus SPMB
2.    Di universitas pilihan, apapun jurusannya cuek aja.
Tapi ini pun kurang tepat, karena :
–    trend akhir-akhir ini, disertai dengan globalisasi dan pemerataan disegala bidang, jurusan bisa berperan lebih penting dalam pencarian pekerjaan dibading universitas.
–    Bagaimana jika kalian terpaksa mempelajari sesuatu yang pada kenyataannya sama sekali tidak kalian senangi.
Mungkin kalian akan lebih arif lagi mendefinisikan sukses SPMB sebagai :
1.    Lulus SPMB
2.    di jurusan yang prospektif
3.    di universitas yang cukup baik

Apakah itu cukup ? bagaimana jika kalian tidak meminatinya ? kemudian apa sebenarnya arti prospektif ?
Lebih lanjut, sekarang mungkin kalian telah menyadari kenyataan, sehingga mendefinisikan sukses SPMB sebagai :
1.    lulus SPMB
2.    di universitas yang cukup baik
3.    di jurusan yang prospektif, dan sesuai dengan bidang yang kalian minati.

Dan prospektif tidak dalam arti sempit, namun dalam arti luas. Prospektif sesuai dengan situasi dan kondisi. Walau definisi ini tampaknya sudah final, masih mungkin kami bertanya kepada kalian :
“bagaimana kalian bisa menjamin kelulusan kalian dengan nilai yang cukup bagus dari jurusan dan universitas itu ?”
Karena kelulusan kalian dengan nilai yang cukup bagus tentunya amat menentukan masa depan kalian selanjutnya.
Jadi mungkin kalian akan menjadi lebih arif dan bijak lagi, bila kalian sedikit bijaksana dan tidak memaksakan diri memasuki jurusan yang diluar kemampuan,, dan alangkah lebih bijak jika sukses SPMB dimengerti sebagai :
1.    lulus SPMB
2.    di universitas yang cukup baik
3.    di jurusan yang prospektif dalam arti luas dengan bidang yang sesuai minat dan kemampuan.

Apakah mungkin mencapai hal-hal tersebut secara sekaligus ? kenapa tidak ?, jika mungkin, apakah sulit ? kata siapa sulit ?. Segala sesuatu pasti ada caranya. Ya…., bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.
Pada dasarnya kita sendiri yang menentukan cara menghadapi & memandang kehidupan sukses atau tidaknya tergantung pada Tuhan dan diri kita sendiri

F. MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK SUKSES DI SPMB
Ada lima faktor yang harus dikuasai siswa untuk bekal lolos di SPMB, yaitu :
1.    Faktor Teknis
Adalah hal yang berhubungan dengan pengisian data pada formulir SPMB. Walaupun data yang diisikan cukup akurat dan dapat dipercaya, bukan berarti bebas dari kesalahan, kesalahan biasanya terjadi karena kealpaan atau kekurang telitian dalam mengisi formulir. Berdasarkan data yang ada, hal tersebut terjadi sebanyak antara 14%-15% dari jumlah peserta. ( berarti pada tahun 1999 sebanyak ± 70.000 orang ).
Kesalahan Teknis Pengisian LJK yang Sering Dilakukan Peserta
a.    salah mengisi kode naskah ujian
–    melihat kode naskah di meja sebelah
–    lupa menghitamkan blok kode naskah
–    menghitamkan tidak sesuai dengan kolom
b.    menghitamkan lebih dari satu bulatan / jawaban /   huruf   pada satu kolom/baris.
c.    Mengisi lembar jawaban kurang hitam
d.    Lembar jawaban terlipat, kotor, sobek, atau basah
e.    Jangan tanda  tangan melewati batas / kotak yang disediakan.
f.    Lembar jawaban dimanipulasi (dilapisi liiin)
g.    Lupa menghitamkan huruf atau angka pada blok yang diisi.

2.    Faktor Psikoloqis
Faktor kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri. Biasanya adalah dengan sering latihan atau belajar bersama, bisa juga dengan sering mengikuti uji coba (try out).

3.    Faktor Strateqi Penguasaan Materi
Tidak semua materi yang diajarkan di SLTA dikeluarkan di SPMB. Tidak semua pokok bahasan keluar dengan jumlah yang sama di SPMB. Untuk keperluan penguasaan materi siswa perlu kisi-kisi SPMB yang berisi tentang pokok-pokok bahasan yang keluar di SPMB dan persentasi jumlah soal.

4,    Foktor Strategi Pengertiaan Soal
Dalam setiap kesempatan mengikuti Try Out dibiasakan mengerjakan soal dimulai dari yang mudah, sedang dan sulit.

5.    Faktor Strategi Memilih Jurusan
Banyak cara dalam menentukan pilihan jurusan, salah satunya adalah :
–    Pertimbangkan bakat dan minat kalian.
–    Kenali kemampuan yang ada pada din kalian.
–    Perluas wawasan kalian tentang jurusan-jurusan yang ada.
–    Pertimbangkan faktor biaya.

G. POSITIVE THINKING
Esensi positive thinking adalah memandang segala sesuatu dari sisi pandang kebaikannya. Orang yang berfikir positif akan memandang keterbatasan kemampuannya pada suatu saat bukan sebagai suatu “kebodohan yang menimbulkan berbagai kesialan”, tapi ia memandangnya sebagaii suatu tantangan yang amat nikmat untuk diatasi.
Orang yang berfikir positif akan memandanng keterbatasan ekonominya sebagai suatu sarana untuk hidup sederhana, dan dengan kesederhanaan nya itu ia akan mencapai kebahagiaan.
Orang yang berfikir positif akan memandang semua hal dari segi kebaikannya, sehingga dunia yang terwujud dihadapannya akan dipenuhi dengan kebaikan. Bagi kita yang meyakini ke-Esa-an Allah, ke-Maha sempurnaan-Nya yang menjadi sebab efektif Satu-satunya bagi semua peristiwa di alam ini merupakan dalil terjelas yang membuktikan keharusan berfikir positif dalam segala hal. Amat efektif bagi kita untuk menekankan credo ini kepada diri kita sendiri, sehingga keyakinan ini akan merekonstruksi kebiasaan berfikir positif bagi diri kita.
” Sesungguhnya Allah bersama persangkaan hamba-Nya ” (AlHadist)
Orang yang berpikir positif akan memandang sulitnya masuk PTN sebagai suatu kenikmatan perjuangan dan harapan, serta memiliki paradigma “jika aku pikir bisa, Insya Alloh aku pasti bisa” Jika saat ini ia gagal untuk mengerjakan suatu soal, ia akan berusaha terus menerus tanpa kenal lelah, sehingga ia benar-benar bisa mengerjakan soal tersebut.
Kita hanyalah satu butir pasir di padang Sahara ummat manusia yang sedang bergerak bersama dengan zaman, tugas kita adalah berikhtiar semampu kita, dengan’orientasi yang tepat, dengan niat yang ikhlas, dan sungguh ” laa haula walaa quwwafa ilia billah”, tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas izin Allah semata.
Dengan berfikir positif, bahwa semua yang berikhtiar pasti akan mendapatkan idsil ikhtiamya, Kami ucapkan “SELAMAT BERJUANG”, semoga bermanfaat dan senantiasa memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita semua.

Menarik bukan? Semoga bisa jadi inspirasi dan motivasi bagi kita semua dalam melanjutkan studi. Apapun keputusannya, mau bekerja, kuliah ataupun menikah. Lakukan semuanya dengan panggilan hati dan totalitas penuh agar nantinya dapat berbuah manis dan hasilnya sesuai dengan impian masing-masing…. Selamat berjuang dan tetaplah berjuang dengan sepenuh hati !! hehe (ytr)

Sumber artikel: http://klikbelajar.com/cerita-motivasi/kemana-setelah-sma/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s