Keutamaan Membaca Al-Quran (Presentation)

Keutamaan Membaca Al-Quran (Presentation)

Advertisements

The Power of SPEAK

The Power of SPEAK

Beberapa sahabat saya complain, bagaimana bisa nilai ulangan pkn saya dapat melonjak dari 76 menjadi 85? Bagaimana bisa nilai ulangan kimia saya yg awalnya 87 bisa beranjak ke angka 95? Bagaimana saya bisa mendapat indeks dribble basket 90 padahal saya bukanlah atlet basket?

Pertanyaan ini mungkin akan sangat menarik bila kita kaji bersama, dengan sedikit penggunaan kata-kata nakal yang akan membuat pikiran anda bergumam hihi. Jawaban saya singkat saja, simple, itu semua karena faktor komunikasi. Komunikasi yang bagaimana? Tentunya komunikasi yang efektif yaitu penyampaian informasi yg penuh perhitungan. Diplomatis. Tapi tidak pragmatis. Sehingga membuat yang kita ajak bicara berpikir dengan kritis terhadap apa yang kita analisis.

Dengan komunikasi yang baik tentunya akan mendukung segala aktivitas yang kita lakukan. Baik di sekolah, rumah, masyarakat, sampai pada organisasi. Hal ini yang membuat anda dilihat mempunyai nilai tambah sehingga nilai itu tertuang dalam buku nilai gurunda-gurunda di sekolah anda hihihi

Banyak beberapa factor yang dapat membuat apa yang akan kita komunikasikan menjadi lebih berkualitas, seperti mental, penguasaan situasi dan bahan, kesantunan, serta hal-hal lainnya. Sehingga dalam melakukan peran anda seperti ber-presentasi, rapat-rapat, lobi-lobi, penyuluhan dan sebagainya dapat berjalan secara baik dan menuai hasil yang maksimal.  Memang adakalanya kita merasa nervous, gugup, atau demam panggung hingga pembicaraan menjadi berputar-putar. nah supaya anda bisa prepare terhadap apa yang ingin anda sampaikan, berikut sedikit tips versi saya

1. Pergunakan kalimat se-efektif mungkin

Uraikan saja isi pembicaraan dengan kalimat efektif dan langsung yang mengena pada sasaran. Hindari pembicaraan out of the topic yang justru malah membuat lawan bicara pusing tujuh keliling terhadap apa yang kita bicarakan. Pada umumnya lawan bicara tidak akan peduli dengan informasi yang tidak ada hubungnnya dengan topic pembicaraan. Seperti “tadi sebelum menuju tempat ini saya bertemu……..”

2. Jangan berbicara terlalu lambat

Tutur kata yang terlalu lamban dan pelan hanya akan membuat lawan bicara boring dan gregetan. Lagipula gaya bicara  yang terlalu lamban akan berkesan bahwa kita ragu-ragu terhadap point-point yang kita sampaikan. Parahnya kita malah dinilai kurang pede dan membuat lawan bicara underestimate terhadap kita. Bicaralah dengan nada yang optimis dan penuh kepedeaan. Jangan juga over. Malah blunder nantinya.

3. Hindari bergumam

Gumaman yang terlalu sering malah justru mengganggu lawan bicara. Lagipula lawan bicara akan menunggu kapan pembicaraan kita kan selesai. Sebisa mungkin minimalkan atau hilangkan kebiasaan bergumam seperti “ ehhhmmm…., eeee….., ooooo….,” dan lain sebagainya. Hal ini juga mengurangi respek  dan ekspetasi anda pada misi anda ketika berkomunikasi, karena anda sudah masuk ruang diremehkan.

4. Jangan bicara menggunakan pikiran, biarkan hati berbicara

Maksudnya adalah jangan terpaku pada pokok bahasan yang telah disusun. Berbicara dengan hati atau “heart to heart” jauh lebih enak dan nyaman disbanding harus berbicara dengan penuh konsentrasi dan memperhatikan gaya bahasa. Orang akan lebih nyaman mendengar percakapan ketika si pembicara berbicara dalam kondisi bebas dan tidak ada rasa keterpaksaan

5. Kuasai tatapan mata pendengar

Ketika berbicara, atau ber-SPEAK jangan memandang ke arah lain selain tatapan mata si pendengar. Perlihatkan sinyal mata anda seolah anda serius pada topik bahasan yang ingin anda sampaikan. Buat mata pendengar mencair, seolah-olah es batu yang dihangatkan oleh mata api anda. Focus! Sungguh tatapan mata berdampak besar bagi sukses tidaknya argument anda.

Dengan mempelajari dan melakukan tips & trik diatas, saya dapat berkomunikasi secara lebih efektif, sekaligus melatih diri saya menjadi pribadi yang efektif. Saya telah banyak mencoba berulang kali sehingga, tidaklah suatu hal yg mengagetkan apabila banyak nilai saya yang bukan benar-benar murni, namun lebih ke dalam nilai tambah. Ingat! keefektifan diperlukan dalam menyelesaikan setiap pekerjaan. Jadilah pribadi yang mengedepankan efektivitas, khususnya dalam berkomunikasi, salam super (ytr)

Mengapa Saya memilih Planologi?

Mengapa Saya memilih Planologi?

Planologi adalah nama beken dari ilmu perencanaan wilayah dan pengembangan kebijakan pada daerah perkotaan. Mengapa saya berniat memasuki jurusan ini? Inilah jawabannya…

Terdapat suatu proses perubahan dalam dinamika kehidupan kita bermasyarakat, khususnya dalam kurun waktu dua dekade ini, baik dalam konteks internasional dan nasional. Yang saya amati adalah meningginya intensitas urbanism. Yaitu perpindahan masyarakat dari pedesaan menuju ke perkotaan, inilah yang merupakan faktor utama kota-kota besar di tanah air makin menyempit.

Secara global sebagaimana diprediksi oleh liga bangsa-bangsa (re:PBB) jumlah penduduk perkotaan di seluruh dunia pada tahun 2025 yang akan datang akan menembus 60% dari populasi dunia. Ledakan pertumbuhan perkotaan memang menjadi masalah yang serius di Negara negara maju. Sedangkan pertumbuhan yang pesat-pesatnya sedang marak terjadi di Negara berkembang, sebut sajalah Indonesia.

Dalam dua dekade ke depan, diperkirakan jumlah kependudukan perkotaan di Negara berkembang akan mencapai angka 50-60% dari total populasinya. Untuk Indonesia sendiri, jumlah warga negaranya yang tercatat menembus angka 230 juta, yg berarti hampir 130 juta penduduknya menetap di daerah perkotaan. Sehingga dibutuhkannya planner-planner yang idealis & realistis untuk mengatasi fenomena yang terjadi pada bangsa kita.

Perkembangan kependudukan membawa harapan masyarakat dalam konteks peningkatan kebutuhan perumahan, sarana prasana dan fasilitas perkotaan. Ini menjadikan problema yang dilematis dimana intensitas penyediaan fasilitas perkotaan masih belum sebanding dengan permintaan masyarakatnya. Akibatnya timbul problem dalam setiap aspek moral, norma, sosial dan ekonomi. Munculnya kawasan kawasan kumuh dan meningkatnya jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan. Itu semua adalah konsekuensi dari ketidakseimbangan dan disharmonisasi tersebut. Sementara problematika tersebut belum menemui jalan keluarnya, terdapat kecenderungan penguntungan hanya untuk kepentingan kelompok dan individu bukan berorientasi pada keseluruhan masyarakat di dalamnya.

Perubahan permasalahan dalam pembangunan dan konstruksi perkotaan ini sangatlah berdampak terhadap perencanaan yang lebih baik. Sangatlah jelas membutuhkan keahlian dalam bidang perencanaan wilayah yang memadai. Di Indonesia keberadaan planner-plannernya masih menjadi kendala baik secara kuantitas dan kualitas. Inilah yang mendorong saya untuk mempelajari ilmu perencanaan wilayah dan pengembangan kebijakan. Semua itu karena saya ingin berkontribusi secara real dalam pembangunan bangsa, demi terwujudnya negeri yang “baldatun thayyibatun wa rabbun ghaffuur”

Demikian, Semoga segala usaha dan doa saya untuk masuk dalam jurusan ini mendapat ridho dari Yang Maha Kuasa aamiin (ytr)

“Segelas Susu Sudah Cukup Membayar Lunas……”

“Segelas Susu Sudah Cukup Membayar Lunas……”

Masih terngiang dalam pikiran saya ketika seorang trainer asal kota Samarinda menceritakan sebuah kisah penuh inspiratif. Kisah ini benar terjadi di Surabaya. Dan Akibat kisah tersebut membuat bulu kuduk saya bergetar dan hati pun jua merasakan getarannya. Yaitu kisah seorang anak miskin yang berjualan koran dari rumah ke rumah hanya untuk membiayai sekolahnya. Pada Suatu hari ia merasa sangat lapar karena seharian belum makan akibat ia tidak mempunyai uang. Akhirnya Ia memutuskan untuk minta makan pada rumah berikutnya, namun segera kehilangan keberaniannya ketika seorang wanita bijak telah membukakan pintu. Dia pun segan. Dia tidak berani untuk meminta makan. Sebagai gantinya ia hanya minta segelas air. Wanita itu melihat bahwa si anak kecil tampak kelaparan, kelelahan dan kehausan di raut wajahnya. ia lalu membawakannya segelas besar susu. Anak itu pun sangat senang bukan kepalang dan meminumnya perlahan-lahan.

“Berapa harus kubayar segelas susu ini?” kata anak itu.

“Kau tidak harus membayar apa-apa,” jawab si wanita. “Karena Ibu melarangku menerima pembayaran atas kebaikan yang kulakukan.”

“Bila demikian, ku ucapkan terima kasih banyak dari lubuk hatiku.”

Seorang loper Koran ini lalu meninggalkan rumah itu.

Ia tidak saja lebih kuat badannya, tapi keyakinannya kepada Alloh dan kepercayaannya kepada sesama manusia menjadi semakin mantap. Sebelumnya ia telah merasa putus asa dan hendak menyerah pada nasib. Di kemudian hari dia menjadi pekerja keras untuk maju dan akhirnyapun berhasil menjadi dokter spesialis

Beberapa tahun kemudian wanita itu menderita sakit parah.

Wanita itu menderita sakit yang parah dan jarang sekali ditemui. Para dokter sudah angkat tangan terhadap penyakit yang diderita.

Wanita itu akhirnya membawa dirinya ke dokter spesialis di kota besar untuk diperiksa keadaannya. Mereka meminta seorang dokter untuk mendiagnosa penyakit itu. Ketika dokter itu mengetahui bahwa si pasien ini adalah penduduk yang berasal dari kota tempat ia pernah menjadi loper Koran, dokter itupun membulatkan tekadnya dan memanggil seluruh dokter spesialis yang ada di rumah sakit tersebut untuk mendiagnosa penyakit wanita itu dan menyembuhkan pasien ini dari renggutan maut.

Sejak hari itu dokter itu mengamati secara khusus keadaan penyakitnya. Setelah melalui perjuangan yang panjang akhirnya dokter berhasil menyembuhkan dan menyelamatkan wanita ini dari renggutan maut.

Akhirnya bagian penagihan dari rumah sakit membawa nota penagihan ongkos pengobatan ke tangan dokter untuk ditanda tangani. Dokter hanya memandang sekilas nota penagihan itu, lalu dia menuliskan beberapa kata di lembar kedua, kemudian memasukkan kembali nota itu ke dalam amplop lalu diantarkan ke pasien itu.

Pada awalnya wanita itu tidak berani membuka nota penagihan itu, karena dia sudah bisa memastikan biaya pengobatan untuk sakitnya ini tentulah sangat besa hingga selama seumur hidupnya dia tidak akan sanggup melunasi. Tetap pada akhirnya dia memberanikan diri membukanya. Lembar pertama memang lah benar, biaya yang ditagih amatlah besar. Lalu dia membuka lembar kedua dan membaca berkali-kali tulisan itu hampir tak percaya:

“Satu gelas susu segar sudah cukup untuk membayar lunas seluruh biaya pengobatan”

Air mata bahagia membanjiri mata si pasien. Ia berkata dalam hati, “Terima kasih Alloh, cinta-Mu telah tersebar luas lewat hati dan tangan manusia.”

Semoga kita bisa mengambil Hikmah dari kisah di atas

Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda kisah ini bermanfaat (ytr)

Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan

This slideshow requires JavaScript.

Kami sekeluarga mengucapkan

***

Selamat menunaikan ibadah puasa maupun

ibadah lainnya di bulan Ramadhan

***

Semoga keberkahan

 selalu menyertai setiap perbuatan kita

***

Semoga kita dapat memaksimalkan setiap

nafas yang terhembus untuk beribadah kepada-Nya

***

Mohon maaf atas segala khilaf kata maupun

tulisan yang sempat menyakiti hati semuanya…

—————————————————-

Marhaban ya Ramadhan Marhaban fi syahril mubarok wa syahril maghfiroh.

Barakallahu lana walakum daaiman bijami’i khoir. Wal’awfu minkum

ALAYNISME MENJANGKITI NEGERI INI

ALAYNISME MENJANGKITI NEGERI INI

“W 9Hy D! HuMZzZ. . . ? ? ?” mungkin sebagian atau bahkan semua kita ini pernah menemukan tulisan ala tulisan pembuka diatas tadi. Yup, itulah tulisan alay yang saat ini lagi boming-bomingnya dikalangan anak baru gede (kisaran umur SMP dan SMU, bukan anak muda).

Banyak tanggapan terhadap munculnya bahasa alay dikalangan ABG kita belakangan ini. Ada yang menilai, “itu wajar saja, so ABG masih mencari jati diri mereka” ada juga yang risau dengan mewabahnya bahasa alay yang belakangan sudah memiliki Kamus Besar Bahasa Alay (KBBA) menyaingi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dengan susah payah disusun para pendahulu kita.

Saya sendiri melihat bahwa, bahasa alay yang menurut beberapa sumber berarti Anak Layangan, ada juga yang menyebut Anak Lebay dan sebagainya, adalah bentuk kreatifitas remaja yang salah kaprah.

Namun setelah menelusuri lebih jauh, bahasa alay yang berkembang di Indonesia, ada kemiripan dengan Bahasa  Leet yang sekitar tahun 1980-an berkembang di barat sana.

Leet atau leetspeak isinya adalah kombinasi dari macam-macam karekter, semisal “the”, jadi “t3h” yang awal muncul, sebenarnya untuk menghalangi filter situs untuk pencarian kata-kata kotor atau porno di
internet.

Jika di Barat leet muncul sekitar 1980-an, leet ala Indonesia baru mewabah di 2010 ini, (sedikit telat menurut saya). Tapi bukan masalah asal usul alay itu yang akan saya mati-matian bahas disini. Namun, akan kemana alay ini dimasa yang akan datang.

Kita sepakat saja, bahasa alay ini sedikit menggangu bahasa keseharian kita (tanpa bermaksud untuk memaksa menyepakati). Alay, setuju tak setuju, wabah ini sudah terlanjur dalam kehidupan sosial kita. Sms, postingan dan terkhusus di Facebook dan Twitter bahasa alay yang sering dilontarkan Anang Hermansyah ini telah membentuk satu komunitas besar.

Alaynisme menurut paham saya jika terus dibiarkan tumbuh, akan mematikan paham nasionalisme (dalam hal penguasaan bahasa Indonesia). Bukan tidak mungkin, alaynisme pengartian saya, adalah sebuah paham yang mengikuti pandangan-pandangan dari bahasa alay akan merajai bahasa keseharian kita dimasa yang akan datang.

Melihat dari sudut penguasa bahasa ini adalah remaja, yang 10-20 tahun akan datang menguasai Indonesia, kebiasaan menggunakan bahasa alay akan sulit untuk dilupakan. Mengakar, menjadi jati diri yang akan susah dipudarkan, hingga (mungkin) bahasa asli Indonesia menjadi pudar, akan terjadi.

Terlalu naif memang jika memprediksi itu saat ini, dan terlaku berlebihan jika menilai bahasa alay itu akan berpengaruh separah itu.

Ketakutan, tidak berminatnya anak sekolahan untuk mempelajari bahasa Indonesia yang baik dan benar, menurut aturan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) sudah mulai terjadi saat ini. Anak remaja yang masih aktif sekolah, malah lebih asik mempelajari KBBA, agar tidak dicap “bukan anak gaul” ketimbang mendalami KBBI.

Jadi tidak mengherankan jika setiap tahun, saat Ujian Nasional (UN) baik tingkat SMP atau SMU, bukan bahasa Inggris atau Matematika yang menjadi ketakutan anak sekolah, malah bahasa negaranya sendiri, Bahasa Indonesia. Dan, tingkat kelulusan yang banyak gagal malah di pelajaran Bahasa Indonesia itu sendiri.

Jika bahasa alay ini terus dibiarkan, apa yang akan terjadi dengan generasi 10-20 tahun yang akan datang. Bisa jadi Indonesia dikuasai, dengan penggunaan bahasa alay. Terus bahasa Indonesia, yang lahir jauh sebelum negara ini merdeka dengan proklamir Sumpah Pemuda akan dikemanakan.

Mari hidupkan nasionalisme penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan (silahkan artikan sendiri) paham alaynisme anda. Akan kemana anda dengan bahasa itu?

PowerPoint download click here: ALAYNISME

Segelintir Kata Tentang Cinta

Segelintir Kata Tentang Cinta

 Jika kita suka pada seseorang karena dia MAHIR melakukan sesuatu, itu bukan cinta tetapi KAGUM.

Jika kita suka pada seseorang karena dia CANTIK atau TAMPAN, itu bukan cinta tetapi NAFSU.

Jika kita suka pada seseorang karena KAYA, itu bukan cinta tetapi MATRE.

Jika kita suka pada seseorang karena dia PERNAH bantu kita, itu bukan cinta tetapi tanda TERIMA KASIH.

Jika kita suka pada seseorang karena TIDAK tau mengapa, itu baru namanya CINTA.

Jika kita suka pada seseorang karena  ALLAH, itu baru

cinta SESUNGGUHNYA.

source: ryanalfiannoor.wordpress.com

FKPM itu KELUARGA, Bukan Organisasi (part.3)

FKPM itu KELUARGA, Bukan Organisasi (part.3)

Banyak cara sedehana lainnya yang dapat menumbuhkan rasa kekeluargaan kami di FKPM, seperti dengan saling mengucapkan dan mendo’akan saat milad salah seorang anggota keluarga kami. Di sekertariat FKPM, ada catatan atau bahkan ada yang hafal betul jadwal milad aktivis setiap bulan,-akh hasan- dan ketika hari-H milad, kami saling memberitahukan bahwa salah seorang kader kita milad, dan hal ini membuat banyak kader kami yang meng-sms, menelepon atau mengucapkan langsung do’a maupun pesan kepada aktivis yang milad hari tersebut. Sehingga hal ini membuat dia merasa dihargai dan merasa banyak yang memperhatikan.

Kita mungkin memang tidak bisa memberikan kado yg mahal dan bernilai harganya, tapi yang bisa kita berikan adalah sebanyak-sebanyak penghargaan, sederhana saja, agar ia senantiasa nyaman dalam berdakwah. Selanjutnya, makan bersama, atau dalam istilah kami adalah “Nge-Rujak” cara ini adalah cara paling sering kami lakukan, biasanya kami lakukan selepas bel pulang sekolah, bersama-sama di Musholla Baitul Ilmi SMANSA. Atau biasanya seorang kader mengundang kita makan bersama di rumahnya, sebagai wujud syukur hari Milad beliau.

Memang jika dilihat, ini merupakan cara yang sangat sederhana, akan tetapi, ketika prosesi makan bersama ini terjadi, kita jadi bisa mengenal lebih dalam satu sama lain, memahami sifat satu sama lain, saling memberikan kepercayaan dengan meminjamkan uang untuk membayar makan ( maklum siswa, kadang tidak ada uang di dompet ). Atau dalam beberapa momen, prosesi Makan Bersama ini menjadi momen untuk membuat ide ide yang dahsyat untuk strategi dakwah di bumi SMANSA.

Dalam kesempatan lain, olahraga bersama -Riyadho- seringkali dilakukan untuk meningkatkan rasa bahagia dan kekeluargaan. Hampir setiap Pekan, kami di FKPM mencoba meningkatkan rasa kekeluargaan ini dengan bermain Bola atau Bulutangkis. kami membuat sebuah turnamen bernama LPI -Liga Primer Ikhwan- Layaknya permainan di sebuah kampung, kami bermain, tertawa bersama dan bersenang-senang bersama. Alhasil, setiap permainan yg kita lakukan sangat berkesan, sehingga kekeluargaan ini semakin terasa, Apa yang kita lakukan ini membuat sesame keluarga FKPM ini semakin dekat dan dekat dan dengan harapan bisa lebih produktif lagi dalam beramal. (bersambung)

This slideshow requires JavaScript.

FKPM itu KELUARGA, Bukan Organisasi (part.2)

FKPM itu KELUARGA, Bukan Organisasi (part.2)

Membentuk nuansa keluarga, itulah sebuah langkah awal untuk membuat saya dan ikhwan lainnya nyaman di FKPM. Sehingga, kita seolah-olah menjadikan FKPM sebagai “rumah kedua” dimana ia berhimpun, bersantai, tempat kembali, tempat mengadu, tempat tertawa dan tempat berjuang bersama. Ketika nuansa nyaman ini bisa dibentuk, maka produktifitas pun akan mengikuti. Nuansa keluarga bisa dibentuk dari hal yang sangat sederhana, atau lebih tepatnya memang membentuk nuansa keluarga harus dengan cara yang sederhana.

FKPM SMANSA memulai itu sama seperti keluarga-keluarga lainnya di muka bumi, Keluarga dengan seorang kepala, sehingga perasaan bersahabat muncul sejak awal untuk semua anggota kita. Proses kekeluargaan disini terus berlanjut dengan berbagai cara, seperti senantiasa menyebut nama panggilan atau bahkan panggilan akrab kepada sesama aktivis. Seperti saya punya banyak nama panggilan, ada yang memanggil saya yunus, aden, thoriq, unyus, bahkan sampai baonk, tidak ada masalah, buat saya hal ini menunjukan sebuah kedekatan emosional antara sesama aktivis dakwah “kecil-kecilan” di bumi SMANSA. Dalam kondisi dimana usia pemimpin dan anggota lainnya yang hanya terpaut beberapa bulan, satu sampai dua tahun, maka dengan cara kharismatik sangat sulit dilakukan, cara yang paling tepat untuk menyentuh hati aktivis-aktivis dakwah adalah dengan keakraban dan kedekatan emosional.

Terkadang-atau sering mungkin-saya memanggil rekan dakwah saya dengan sebutan “my bro”, atau “my brur” atau “jhon” atau “my man” atau “sahabatku tercinta”, mungkin anda akan tertawa melihat panggilan ini, akan tetapi disinilah rasa keluarga itu terbentuk. Sehingga, Saya mempunyai impian menambah fungsi satu divisi yg masih jarang akan program kerja, yaitu divisi RT, dengan menambahkan fungsi menjadi divisi Rumah tangga dan Kekeluargaan. di mata saya Divisi ini saya harapkan mampu melakukan banyak manuver untuk mendekatkan sesama kader-kader dakwah sekolah. Jika benar terbentuk, Saya berpesan kepada kepala divisi Rumah Tangga dan Kekeluargaan FKPM, “tugas kamu cuma satu, yakni memastikan semua kader kita bahagia” (bersambung)

Saat-Saat Doa Tidak Terkabulkan

Saat-Saat Doa Tidak Terkabulkan

Sepulang sekolah tampak seorang anak kecil merengek meminta sesuatu pada orang tuanya. Waktu itu bulan Ramadhan, Ia meminta uang untuk membeli petasan seperti yg dimainkan beberapa temannya. Rupanya rengekan dan rayuan sang anak tidak meluluhkan hati orang tuanya untuk memberikan uang. Anak itu tidak pedul walupun sudah diberi pengertian oleh orang tuanya bahwa membeli petasan tidak berguna dan berbahaya bagi dirinya. Ia marah dan jengkel pada orang tuanya. Merasa tidak diperhatikan dan disayang. Anak itu adalah saya sewaktu masih SD beberapa tahun silam.

Kejadian tersebut sebenarnya berkaitan dengan pengetahuan kita yang kurang dan terbatas. Saat masih kecil pengetahuan kita sangat terbatas dibandingkan dengan orang tua. Akibatnya kita hanya memikirkan kesenangan saja tanpa memerdulikan akibatnya. Begitu pula dengan hubungan manusia dengan Allah. Manusia mempunyai pengetahuan yg sangat terbatas dibandingkan Allah. Allah Maha Tahu dan Maha Segala-galanya. Sedangkan, manusia mempunyai batasan-batasan kemampuan dan pengetahuan. Akibatnya doakita tidak dikabulkan. Karena Allah mengetahui hal itu bukan yang terbaik bagi kita. Namun kita sering kecewa dengan-Nya. Menganggap Allah tidak saying pada kita.

Sebenarnya Allah tidak pernah mengindahkan doa umatnya. Jika ternyata tidak terkabul biasanya Allah menggantinya dengan yg terbaik bagi kita. Jika anda merasakan bahwa doa yg dipanjatkan selama ini tidak pernah terkabulkan, yakinlah itu yg terbaik bagi anda. Suatu saat pasti akan datang yg lebih baik dari yang anda minta. Ingatlah saudaraku, Allah selalu memberikan yg terbaik bagi umatnya. Teruslah bersabar dan berbaik sangka pada-Nya (ytr)

The Power of Kepepet atau The Power Of Iming-Iming?

The Power of Kepepet atau The Power Of Iming-Iming?

Menurut saya di dunia ini hanya ada dua hal yang mampu membuat orang bergerak.Yang pertama adalah tujuan/impian/harapan, lalu kedua adalah kepepet.Keduanya memang penting tapi kondisi kepepet lah yang membuat orang bergerak. karena dalam keadaan kepepet orang dipaksa bergerak,sedang tujuan hanya sebagai penuntun arah jalan kita. Anda Masih belum percaya??

Cermati cerita ini:

 Motivasi Dikejar Macan (oleh:Jaya Setiabudi)

Bayangkan anda berada di atas gedung kembar 50 tingkat.Jarak antar gedung adalah 10 meter.Diantara gedung itu dipasang besi selebar satu kaki yang menjembatani dua gedung tersebut.Anggap anda ada di gedung A,dan yang lain B.Maukah anda menyeberangi dua gedung tersebut???anda pasti berpikir”iseng banget pertaruhin nama enggak jelas gitu.”Betul.semua orang berpikiran begitu.Coba diberi hadiah ! juta.Anda mulai pikir-pikir.Karena uang dan resiko tak sebanding.saya naikkan jadi 100 juta,masih pikir-pikir.Coba 1 miliar.Anda pasti tertarik.

Kondisi kedua,bagaimana saya kasih seekor macan untuk mengejar anda.Pati anda akan berlari sangat kencang untuk menyeberangi gedung itu.

Kondisi ketiga,bagaimana uang 1 miliar itu ditiadakan.Tapi saya tetap mengirimkan macan untuk mengejar anda.Anda tak perlu berpikir karena kalau anda berpikir anda pasti mati diterkam macan.Anda pasti langsung berlati kencang tanpa memikirkan apapun.

So,lebih besar mana pengaruhnya??
The power of Iming-iming atau THE POWER OF KEPEPET..?? (ytr)